Masalah nutrisi pada
ibu menyusui
Masalah nutrisi, meskipun sering berkaitan dengan masalah kekurangan
pang-an, pemecahanya tidak selalu berupa peningkatan produksi dan pengadaan
pang-an. Pada kasus tertentu, seperti dalam keadaan krisis ( bencana
kekeringan, pe-rang, kekacauan social, krisis ekonomi ), masalah nutrisi muncul
akibat masalah keta-hanan pangan di tingkat rumah tangga, yaitu kemampuan rumah
tangga mempe-roleh makanan untuk semua anggotanya.Menyadari hal itu ,
peningkatan status nutrisi ma-syarakat memerlukan kebijakan yang menjamin
setiap anggota masyara-kat untuk memperoleh makanan yang cukup jumlah mutunya.
Masalah nutrisi yang ditemui pada ibu menyusui antara
lain :
1. Anemia nutrisi
2. Kurang vitamin a
3. Gangguan akibat kekurangan iodium
(GAKI)
4. Kekurangan energi protein (KEP)
5. Kekurangan vitamin d
1. Anemia Nutrisi
Penyebab utama anemia nutrisi
adalah kekurangan zat besi (Fe) dan asam folat yang seharusnya tak perlu
terjadi bila makanan sehari hari beraneka ragam dan memenuhi nutrisi seimbang.
Sumber makanan yang mengandung zat besi yang mudah diabsopsi tubuh manusia adalah
sumber protein hewani seperti ikan, daging, telur, dsb. Sayuran seperti daun
singkong, kangkung, bayam dsb juga mengandung zat besi akan tetapi lebih sulit
absorpsinya di dalam tubuh.
Asupan folat yang cukup penting untuk melindungi kesehatan ibu dan bayi.
Hal ini juga terlibat dalam pembentukan hemoglobin dalam sel darah merah.
Seorang wanita menyusui menbutuhkan 280 mikrogram per hari. Folat terdapat
dalam sayuran berdaun hijau, kacang polong, jeruk, wartel, pisang, alpukat,
gandum utuh, sereal dan biji-bijian dan hati.
Penyebab langsung & tidak langsung defisiensi Fe (Sumber M. Husaini
dkk) :
1. Jumlah Fe dalam makanan tidak cukup
- Ketersediaan Fe dalam makanan kurang
- Kwalitas & kwantitas makanan kurang
- Social ekonomi rendah
2.
Penyerapan zat besi dalam tubuh rendah
Komposisi makanan kurang beraneka
ragam
Terdapat zat penghambat penyerapan
zat besi
, minum tablet besi dengan tablet
calsium sehingga zat besi tidak dapat diserap maksimal
3.
Kebutuhan zat besi yang meningkat
4.
Kehilangan darah
Contoh menu Nutrisi
seimbang untuk mencegah anemia :
— Sarapan pagi
- Telur matang 1 buah
- Susu rendah lemak 200 ml (1 gelas)
— Selingan : bubur kacang hijau 1 mangkuk
— Makan Siang
- Nasi 2 x ¾ gelas belimbing ( 200 gram
)
- Tumis kangkung
- Semur daging kentang (1 potong sapi 50
gram)
- Sup kacang merah 1 mangkuk
- Air jeruk 1 gelas
— Selingan sore : kue sus 1 buah
— Makan malam :
- Nasi 2 x ¾ gelas belimbing (200 gram)
- Capcay 1 mangkuk kecil
- Ayam angkak ( 2 potong ayam)
- Sapo tahu 1 mangkuk kecil
- Juice strawberry 1 gelas
— Sebelum tidur : susu rendah lemak 1 gelas (200 ml)
2. Kekurangan vitamin A
Pada ibu menyusui, Vitamin A
berperan penting untuk memelihara kese-hatan ibu selama masa menyusui. Buta
senja pada ibu menyusui, suatu kondisi yang kerap terjadi karena Kurang Vitamin
A (KVA).
Rendahnya status vitamin A selama
masa kehamilan dan menyusui beraso-siasi dengan rendahnya tingkat kesehatan
ibu. Pemberian suplementasi vitamin A dosis rendah setiap minggunya, sebelum
kehamilan, pada masa kehamilan serta setelah melahirkan telah menaikkan
konsentrasi serum retinol ibu, menurunkan penyakit rabun senja, serta
menurunkan mortalitas yang berhubungan dengan kehamilan hingga 40 %.
Semua anak, walaupun mereka
dilahirkan dari ibu yang berstatus nutrisi baik dan terlahir dengan cada-ngan
vitamin A yang terbatas dalam tubuhnya hanya cukup memenuhi kebutuhan untuk
sekitar dua minggu. Pada bulan-bulan perta-ma kehidupannya, bayi sangat
bergantung pada vitamin A yang terdapat dalam ASI. Oleh sebab itu, sangatlah
penting bahwa ASI mengandung cukup vitamin A.
Anak-anak yang sama sekali
tidak mendapatkan ASI akan berisiko lebih tinggi terkena Xeropthalmia. Rabun
senja merupakan indikator fungsional yang penting dari masalah KVA.
Bahkan hampir 10 % dari ibu
tidak hamil me-ngalami rabun senja. Tingginya prevalensi tersebut menunjukkan
bahwa KVA merupakan masalah potensial bagi ibu serta bayi yang disusuinya .
Penanggulangan KVA Pada Ibu Menyusui
KVA dapat
ditanggulangi dengan berbagai cara, seperti forfikasi berbagai produk makanan,
pening-katan ketersediaan dan konsumsi makanan yang me-ngandung vitamin A.
Vitamin A ditemukan pada makanan yang biasa dikonsumsi, seperti telur, hati,
buah-buahan berwarna oranye, seperti mangga dan papaya masak, serta sayuran
berdaun hijau.
3. Gangguan Akibat Kekurangan Iodium (GAKI)
— Gangguan akibat kekurangan yodium mengakibatkan
terjadinya gondok atau pembengkakan kelenjer tiroid di lehe dan kretinisme,
— Yodium merupakan nutrisi penting untuk memastikan
perkembangan normal dari otak dan sistem saraf pada bayi dan anak-anak muda
— Pada ibu menyusui, kekurangan yodium dapat
mengakibatkan pengaruh negatif pada sistem otak dan saaraf bayi dan
menghasilkan IQ lebih rendah
— Asupan harian yodium ibu menyusui yang harus dipenuhi
adalah 250 mg per hari
— Laut merupakan sumber utama yodium, oleh karna itu
laut merupakan sumber yodium yang baik. Ibu menyusui dianjurkan makan makanan
laut, seperti ; ikan, udang dan karang
4. KURANG ENERGI PROTEIN (KEP)/PROTEIN ENERGI
MALNUTRITION (PEM)
- Adalah penyakit nutrisi
akibat defisiensi energi dalam jangka waktu yang cukup lama.
- Prevalensi tinggi
terjadi pada balita, ibu hamil (bumil) dan ibu menyusui/meneteki (buteki)
- Pada derajat
ringan pertumbuhan kurang, tetapi kelainan biokimiawi dan gejala klinis
(marginal malnutrition)
- Derajat berat
adalah tipe kwashiorkor dan tipe marasmus atau tiep marasmik-kwashiorkor
- Terdapat gangguan
pertumbuhan, muncul gejala klinis dan kelainan biokimiawi yang khas
Penyebab
- Masukan makanan
atau kuantitas dan kualitas rendah
- Gangguan sistem
pencernaan atau penyerapan makanan
- Pengetahuan yang
kurang tentang nutrisi
- Konsep klasik
diet cukup energi tetapi kurang pprotein menyebabkan kwashiorkor
- Diet kurang
energi walaupun zat nutrisi esensial seimbang menyebabkan marasmus
- Kwashiorkor
terjadi pada hygiene yang buruk , yang terjadi pada penduduk desa yang
mempunyai kebiasaan memberikan makanan tambahan tepung dan tidak cukup
mendapatkan ASI
- Terjadi karena kemiskinan
sehingga timul malnutrisi dan infeksi
Gejala klinis KEP
ringan
- Pertumbuhan
mengurang atau berhenti
- BB berkurang,
terhenti bahkan turun
- Ukuran lingkar
lengan menurun
- Maturasi tulang
terlambat
- Rasio berat
terhadap tinggi normal atau menurun
- Tebal lipat kulit
normal atau menurun
- Aktivitas dan
perhatian kurang
- Kelainan kulit
dan rambut jarang ditemukan
Pembagian
1.
Marasmus
- Kwashiorkor
- Marasmus-kwashiorkor
1.
Marasmus adalah kekurangan energi
pada makanan yang menyebabkan cadangan protein tubuh terpakai sehingga anak
menjadi “kurus” dan “emosional”. Sering terjadi pada bayi yang tidak cukup
mendapatkan ASI serta tidak diberi makanan penggantinya, atau terjadi pada bayi
yang sering diare.
Penyebab
- Ketidakseimbangan
konsumsi zat nutrisi atau kalori didalam makanan
- Kebiasaan makanan
yang tidak layak
- Penyakit-penyakit
infeksi saluran pencernaan
Tanda dan gejala
- Wajah seperti
orang tua, terlihat sangat kurus
- Mata besar dan
dalam, sinar mata sayu
- Mental cengeng
- Feces lunak atau
diare
- Rambut hitam,
tidak mudah dicabut
- Jaringan lemak
sedikit atau bahkan tidak ada, lemak subkutan menghilang hingga turgor
kulit menghilang
- Kulit keriput,
dingin, kering dan mengendur
- Torax atau sela
iga cekung
- Atrofi otot,
tulang terlihat jelas
- Tekanan darah
lebih rendah dari usia sebayanya
- Frekuensi nafas
berkurang
- Kadar Hb
berkurang
- Disertai
tanda-tanda kekurangan vitamin
2.
Kwashiorkor adalah penyakit yang
disebabkan oleh kekurangan protein dan sering timbul pada usia 1-3 tahun
karena pada usia ini kebutuhan protein tinggi.
Meski penyebab utama
kwashiorkor adalah kekurangan protein, tetapi karena bahan makanan yang
dikonsumsi kurang menggandung nutrient lain serta konsumsi daerah setempat yang
berlainan, akan terdapat perbedaan gambaran kwashiorkor di berbagai negara.
Penyebab
- Kekurangan
protein dalam makanan
- Gangguan
penyerapan protein
- Kehilangan
protein secara tidak normal
- Infeksi kronis
- Perdarahan hebat
Tanda dan gejala
- Wajah seperti
bulan “moon face”
- Pertumbuhan
terganggu
- Sinar mata sayu
- Lemas-lethargi
- Perubahan mental
(sering menangis, pada stadium lanjut menjadi apatis)
- Rambut merah,
jarang, mudah dicabut
- Jaringan lemak
masih ada
- Perubahan warna
kulit (terdapat titik merah kemudian menghitam, kulit tidak keriput)
- Iga normal-tertutup
oedema
- Atrofi otot
- Anoreksia
- Diare
- Pembesaran hati
- Anemia
- Oedema
3.
Kwashiorkor-marasmik memperlihatkan gejala
campuran antara marasmus dan kwashiorkor
Penatalaksanaan
Secara umum
- Ruangan cukup
hangat dan bersih
- Posisi tubuh
diubah-ubah (karena mudah terjadi dekubitus)
- Pencegahan
infeksi nosokomial
- Penimbangan BB
tiap hari
Secara khusus
Resusitasi dan terapi
komplikasi
- Koreksi dehidrasi
dan asidosis (pemberian cairan oralit atau infus)
- Mencegah atau
mengobati defisiensi vitamin A
- Terapi Ab bila
ada tanda infeksi atau sakit berat
4.
Kekurangan vitamin D pada ibu menyusui
Fungsi utama ibu menyusui adalah membantu pembentukan dan pemeliharaan
tulang bersama vitamin A dan C. Vitamin D diperoleh tubuh melalui sinar
matahari dan makanan. Kekurangan vitamin D lebih mungkin terjadi di negara yang
tidak selalu mendapat sinar matahari.
Osteomalasia adalah riketsia pada orang dewasa. Biasanya terjadi pada
wanita yang konsumsi kalsiumnya rendah, tidak banyak mendapat sinar matahari
dan pada ibu menyusui.
Pada ibu menyusui dianjurkan makan makanan hewani yang merupakan sumber
utama vitamin D dalam bentuk kolekalsiferol, yaitu kuning telur, hati, krim,
mentega dan minyak hati-ikan.
Seorang ibu menyusui membutuhkan 300-500 kalori tambahan setiap hari untuk
dapat menyusui bayinya dengan sukses. 300 kalori yang dibutuhkan oleh si bayi
datang dari lemak yang ditimbun selama kehamilan. Artinya, seorang ibu menyusui
tidak perlu makan berlebihan, teyapi cukup menjaga agar konsumsi nutrisinya
seimbang. Ibu menyusui cepat merasa haus, karena ibu menyusui harus minum
sebanyak mungkin seperti : air, susu sapi, susu kedelai, jus buah segar, dan
sup. Saat menyusui, minuman keras sebisa mungkin dihindari karena dapat membahayakan bayi dan mengurangi
produksi susu.
Faktor-faktor yang mempengaruhi nutrisi ibu menyusui :
1. pengaruh makanan
erat kaitannya dengan volume ASI yang diproduksi per hari.
2. protein, dengan adanya variasi individu maka dianjurkan penambahan 15-20
gram protein sehari
3. suplementasi, jika makan sehari seimbang, supleentasi tidak diperlukan
kecuali kekurangan satu atau lebih zat nutrisi.
4. aktivitas
KEBUTUHAN ZAT NUTRISI
IBU MENYUSUI
Kebutuhan kalori
selama menyusui proporsional dengan jumlah air susu ibu yang dihasilkan dan
lebih tinggi selama menyusui dibanding selama hamil. Rata-rata kandungan kalori
ASI yang dihasilkan ibu dengan nutrisi yang baik adalah 70 kal/100 ml, dan
kira-kira 85 kal diperlukan oleh ibu untuk tiap 100 ml yang dihasilkan.
Rata-rata ibu menggunakan kira-kira 640 kal/hari untuk 6 bulan pertama dan 510
kal/hari selama 6 bulan kedua
untuk menghasilkan jumlah susu normal. Rata-rata ibu harus mengkonsumsi
2300-2700kal ketika menyusui. (Dudek,2001)
a.
Protein
Ibu memerlukan tambahan 20 gram diatas kebutuhan normal ketika menyusui. Jumlah
ini hanya 16 % dari tambahan 500 kal yang dianjurkan.
b. Cairan
Nutrisi lain yang diperlukan selama
laktasi adalah asupan cairan.
Dianjurkan ibu menyusui minum 2-3
liter/hari, dalam bentuk air putih, susu dan jus buah.
c. Vitamin dan Mineral
kebutuhan vitamin dan mineral selama
menyusui lebih tinggi daripada selama
hamil.
DAFTAR PUSTAKA
Almatsier sunita, 2009, Prinsip Dasar Ilmu Nutrisi,
PT.Gramedia Pustaka Utama. Jakarta .
http;//www.health.qld.gov.au